Umrah atau Wisata Umrah?

Agama Opini

Umrah, ketika mendengar term umrah setiap orang mempunyai pengertian masing-masing, karena term adalah sebagai ungkapan pengertian. Jika kita hubungkan dengan ilmu logika maka kalimat ‘‘Umrah’’ dinamakan term sederhana atau term simple, karena hanya terdiri dari satu kata dan satu istilah. Namun jika term terdiri dari beberapa kata dinamakan term komposit atau term komplek, seperti kalimat penyair modern, reaktor atom, kesenian daerah modern, atau lain sebagainya. Term komposit walaupun mempunyai pengertian masing-masing, tetapi jika digabungkan hanya menjadi satu pengertian. (Lihat Drs. Ali Abri, MA, Pengantar Logika Tradisional, Surabaya: Penerbit Usaha Nasional, 1994). hal. 53.

Tetapi saya disini tidak ingin menulis Ilmu Logika, term dan pengertiannya, namun sesuai dengan judul diatas, saya ingin menulis mengenai umrah atau wisata umrah?. Jujur saya katakan, bahwa saya belum berangkat umrah, ingin juga rasanya berangkat umrah apalagi pada bulan Ramadhan seperti yang telah dilakukan oleh kedua orangtuaku, sabda Rasulallah “Umrah pada bulan Ramadhan itu bagaikan haji bersamaku.” (Shahih; Shahih Al-Jami’. hadits no. 4098). Thawaf di Baitullah, minum air zamzam di tempat dimana air zamzam keluar dari hentakan kaki nabi Ismail as, ziarah ke makam Rasulallah saw di Madinah bersama makam sahabat beliau yang mendapatkan gelar Radhiyallahu ‘anhum (Allah telah meridhai mereka), apalagi yang kita harapkan selain ridha Allah dan syafa’at Rasulallah saw.

Namun semua itu menjadi bahan renungan saya, ketika saya melihat teman-teman memajang foto-foto mereka sedang melaksanakan umrah di medsos, foto dari awal keberangkatan, hingga kepulangan dari umrah selalu update di medsos. Saya lalu bertanya, bagaimana mereka bisa selalu berfoto pada setiap kegiatan ibadah yang mereka lakukan? Yang saya tahu, bahwa jika kita ingin berfoto tentunya kita harus menyiapkan handphone, mencari aplikasi foto, minta kepada orang lain untuk memfoto (jika tidak selfie), kita lihat hasilnya, jika kurang bagus kita ulangi lagi, selanjutnya kita butuh meluangkan waktu untuk meng-upload foto-foto tadi.

Dari rangkaian kegiatan berfoto dan meng-upload tadi, tentunya kita membutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan hal tersebut sudah pasti dapat menyita waktu ibadah kita. Sedangkan Umrah adalah sebuah ibadah, dan kita berharap dalam melaksanakan ibadah pastinya dilakukan dengan khusuk, tidak memikirkan hal-hal yang lain, selain semata-mata mengingat Allah, dan berharap ibadah kita diterima oleh-Nya. Oleh sebab itu, jika ibadah kita dibarengi dengan hal-hal yang dapat menjadikan kita lupa kepada-Nya, apakah hal tersebut tidak merugikan kita?.

Ibadah Umrah yang sudah kita lakukan dengan mengorbankan harta, waktu dan diri kita, telah kita nodai sendiri dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, niat berfoto mungkin hanya untuk menunjukkan kepada orang lain, atau berharap agar orang lain ketika melihat foto kita punya kemauan untuk melaksanakan Umrah juga, atau niat lainnya yang saya tidak tahu. Saya hanya berharap semoga Umrah yang kita lakukan betul-betul Umrah karena Allah, bukan karena yang lainnya. Karena Rasulallah saw sudah peringatkan kita dengan sabdanya “Sesungguhnya amal perbuatan kita dinilai dari niatnya”.

Sekali lagi, disini saya bukan melarang untuk teman-teman yang melaksanakan Umrah untuk berfoto-foto, namun saya hanya sedikit risih ketika melihat teman-teman yang selalu memajang foto ketika Umrah pada setiap kegiatannya, sehingga seakan-akan Umrah hanya untuk berfoto-foto, bukan untuk beribadah. Saya kira sah-sah saja selama berfoto dilakukan seperlunya, tidak mengganggu kegiatan Umrah. Namun jika sudah mengganggu kekhusyuan dalam beribadah, ini yang perlu dipertanyakan, “Umrah, atau wisata umrah???”.

M. Syukri Ismail / Dosen STAI YASNI Muara Bungo-Jambi / Mahasiswa Doktor UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sabtu, 30 April 2016 / 22 Rajab 1437

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments