Senyum Suci

Senyum Suci, Usia Boleh Tua, Jiwa Harus Tetap Muda

Cerpen

Waktu terus bergulir, tidak terasa sudah delapan belas tahun aku menjalani profesi ini. Menjadi seorang pendidik bukanlah cita-citaku di masa kecil.

Awalnya aku ingin menjadi seorang penyiar TV, lalu ingin menjadi pekerja seni secara profesional. Setelah tamat kuliah, aku berkeinginan bekerja di bidang pariwisata, budaya, dan seni.

Takdir berkata lain, tahun kedua setelah wisuda aku mencoba ikut test CPNS sebagai calon guru SMA mata pelajaran Seni Budaya. Sesuai dengan gelar yang aku dapatkan yaitu Sarjana Pendidikan.

Tidak salah, hanya jiwaku saja yang belum yakin untuk menjalani profesi guru. Aku berkeyakinan bahwa guru itu harus menjadi seseorang yang bisa digugu dan ditiru. Orang yang bisa menjadi panutan, dapat memberi contoh yang baik,  yang tercermin dari prilaku, perkataan, cara pandang dan mampu memberikan motivasi serta inspirasi dalam semua aktivitas hidupnya. Bagi anak didik maupun di dalam masyarakat.

Menjadi seorang guru memiliki beban mental yang berat di dalam kehidupan masyarakat secara umum.

Secara mental, aku merasa belum siap dan belum mampu menjalaninya.

Test CPNS yang aku ikuti ini menjadi pengalaman pertama dan terakhir bagiku. Awalnya aku tidak yakin bisa lulus sebab se-Provinsi hanya dua formasi yang dibutuhkan untuk mata pelajaran seni budaya.

Jika Allah SWT sudah berkendak yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tiga hari setelah pelaksanaan test tahap pertama pengumuman kelulusan bisa dilihat di surat kabar harian terkenal di Lampung. Namaku ada di urutan pertama dari empat nama, pada test tahap kedua akan diambil dua nama.

Dua nama tersebut   menjadi CPNSD di Kabupaten Lampung Utara. Salah satu kabupaten tertua di Provinsi Lampung.

Dua hari setelah pengumuman pertama, test tahap kedua kembali aku ikuti dengan materi psikotest. Tiga hari kemudian kelulusan diumumkan di surat kabar harian yang sama.

Alhamdulillah, namaku ada di urutan pertama. Puji syukur atas karunia Allah SWT yang istimewa ini.

Dua bulan kemudian aku mulai melaksanakan tugas negara sebagai guru  di salah satu SMA Negeri di Kecamatan Abung Timur.

Di desa ini penduduknya masih asli pribumi.

Tantangan baru bagiku untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang belum aku kenal sebelumnya.

Butuh perjuangan untuk bisa memahami  karakter dan pola pergaulan di tempat tugas yang baru ini.

“Pandai-pandailah menjaga diri di lingkungan yang baru”

Pesan suami yang selalu aku ingat. Menjadi istri dan ibu denan satu menjadi pertimbanganku dalam memilih teman pergaulan.

Aku sudah sering menyampaikan kepada siswaku bahwa statusku, sudah menikah dan memiliki anak satu.

Mereka tidak peduli, hapir setiap malam ada saja yang berkunjung ke rumah  tempatiku di desa tetangga.

Istilah setempat ‘nganjang’ atau bahasa gaulnya ngapel. Ada saja alasan mereka datang ke tempat tinggalku.

Paling sering ingin belajar kelompok. Mereka datang berjumlah lima sampai sepuluh orang. Menjelang larut  mereka pulang.

Status mereka siswa SMA tapi usia mereka sudah dewasa. Mereka menyakini istilah yang mengatakan bahwa ‘sekolah adalah tempat bermain yang menyenangkan’.

Tidak sepenuhnya salah, cara memahami dan menyikapinya mereka yang tidak tepat.

Sulit sekali mengajak mereka betah di dalam kelas untuk belajar. Waktu, mereka habiskan di luar kelas bermain melakukan apa saja yang mereka sukai.

Tidak heran jika usia mereka rata-rata sudah dewasa masih menjadi siswa SMA, karena mereka sering tinggal kelas.

Bimbingan dan pembinaan sudah dilakukan dengan berbagai cara. Tapi perilaku mereka sulit sekali berubah.

Mereka dengan bangga menjuluki diri mereka sendiri dengan sekolah 89, yaitu sekolah berangkat jam delapan pulang jam sembilan.

Situasi seperti itu membuatku kurang nyaman. Aku hanya mampu bertahan satu tahun tinggal di sana.

Aku memilih pulang pergi setiah hari dari rumah tempat tinggalku di Kota Metro, bersama suami dan anakku.

Setiap hendak berangkat ke tempat tugas, aku merasa panas dingin dan mendadak meriang. Demi sebuah harapan, semua perasaan tidak nyaman aku kesampingkan.

Aku berkeyakinan suatu saat, akan ada masanya mendapat yang terbaik.

Waktu terus berjalan. Meski terasa lambat. Akhirnya genap tiga tahun aku mengabdi di sekolah tersebut. Banyak kenangan berkesan yang tersemat di tempat itu, suka maupun duka tak terlupakan.

Pada tahun ketiga pengabdiaku akhirnya surat mutasi tugas aku dapatkan, penuh perjuangan mendapatkan persetujuan pindah tugas.

Alasanku mengajukan pindah tugas karena ikut suami bertugas di Kota Metro, sebagai seorang pendidik.

Bertepatan dengan tahun ajaran baru, aku mulai mengabdi di tempat yang baru, di sebuah SMA Negeri di timur Kota Metro.

Ada harapan baru di sekolah baru ini. Yang pasti aku merasa lebih nyaman karena dekat dengan suami dan anakku yang baru berusia lima tahun.

Di tahun ini pula aku mendapat hadiah terindah dari Allah SWT. Aku hamil anak kedua. Alhamdulillah.

Di tempat tugas yang baru ini, aku bisa cepat beradaptasi. Semua guru dan siswa menerima dengan tangan terbuka kehadiran ku.

Awalnya aku merasa minder di sekolah baru ini, karena aku guru pindahan dari sekolah udik. Banyak informasi perkembangan dunia pendidikan yang tidak aku dapatkan.

Terutama yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan. Aku singkirkan rasa sungkan, gengsi dan maluku, aku terus bertanya dan belajar, aku gali informasi sebanyak-banyaknya tentang semua hal yang aku belum ketahui.

Setiap ada diklat atau workshop tentang pendidikan pasti kuikuti dengan serius, aku terus menggali informasi yang belum kudapatkan.

Meski aku harus berkorban waktu, tenaga, dan kebersamaan dengan keluarga kecilku. Setiap ada tugas dari sekolah tidak aku tolak, semaksimal mungkin aku lanksanakan dengan baik, meskipun hati kecilku harus menangis meninggalkan anak keduaku yang masih bayi diasuh oleh pengasuh.

Di sinilah letak dilema seorang ibu yang bekerja. Menjadi ibu yang bekerja adalah pilihan. Aku harus bisa menerima atas segala konsekuensi atas pilihanku.

Aku ingin ilmu yang aku dapatkan bisa bermanfaat untuk orang lain. Aku merasa ilmu yang kumiliki tidak banyak, aku ingin ilmuku bisa berkembang, meskipun aku harus berbagi perhatian antara keluarga dan anak didikku.

Aku sering berbagi ilmu kehidupan dengan anak didikku. Ilmu yang tidak ada nilai dan mata pelajarannya. Aku berpesan pada mereka, bahwa mereka mungkin belum mamahami dan membutuhkannya.

“Mungkin saat ini, kalian belum memahaminya, tapi suatu saat nanti, lima tahun atau sepuluh tahun ke depan kalian pasti mahaminya.

Saat itulah kalian akan ingat semua pesan ibu. Saat itu, kalian akan rindu saat ini”

Beberapa peristiwa bersama  murid-muridku jadi kenangan indah dan selalu mengendap dalam hidup ingatanku sepanjang masa.

Di pagi yang cerah penuh semangat, aku awali aktifitas harianku dengan membersamai anak-anak didik dalam menuntut ilmu. Kelas X IPS4.

Mutiara-mutiara bangsa berceloteh riang gembira bagai anak-anak kelinci berkejaran di padang rumput yang membentang, seluas mata memandang. Diiringi kicau burung-burung kecil bermandikan sinar mentari pagi nan hangat.

Santai namun serius, materi demi materi yang terhidang habis dilahap dengan nikmat. Sesekali terlontar celoteh manja dalam tanya yang hadir karena rasa ingin tahu.

Setiap detik waktu bergulir secepat kilat. Perputaran waktu tak terasa begitu cepat melaju hingga sampailah pada batas waktu untuk berakhir pade sesi pertemuan dalam satu minggu.

Dua jam telah berlalu dengan nikmat. Tibalah waktunya berpisah sementara untuk berjumpa kembali di lain waktu. Aku akhiri pertemuan pagi ini dengan berucap salam, sebelumnya telah aku berikan motivasi pemacu semangat untuk belajar.

Perlahan aku berjalan menuju pintu keluar untuk melankutkan sesi pertemuan selanjutnya di kelas yang berbeda. Aku belum sampai di ambang pintu, tertangkap oleh telinggaku ada suara bergetar pelan memanggiku.

“Bu… Bu Guru… Bu Rani…. ”

“Iya”

Langkah kakiku terhenti dan aku menoleh ke belangkang. Sambil aku bertanya pada mereka, untuk memastikan jika ada anak yang manggil.

“Maaf, siapa tadi yang  memanggil ibu ya?”

“Iya bu, saya bu. Nama saya Suci bu. Bu Rani, saya pengen ngomong sama ibu, boleh bu?”

“Oohhh… Ya boleh. Ayo ngomong aja”

“Saya boleh jujur nggak bu. Tapi saya malu bu”

“Suci, ndak usah malu,  boleh kok mau ngomong apa saja. Kalau tidak nyaman di sini yuk di ruang ibu”

Kami berjalan beriringan ke kantor guru. Sebelum bel pergantian jam pelajaran berbunyi, aku masih memiliki waktu beberapa menit lagi. Aku manfaatkan untuk berbicara empat mata dengan Suci.

“Suci, mau ngomong apa?”

“Bu Rani, Suci kangen mama. Suci boleh peluk Bu Rani nggak?”

Air mata meluncur deras tak terbendung lagi dari kedua mata Suci. Kesedihan terlihat dari raut wajah Suci yang manis.

Di dalam hati, aku bertanya apakah gerangan yang membuat Suci sedih dan menangis.

“Iya, boleh. Kok kangen mama, mama Suci pergi ke mana?”

“Mama Suci, sudah pergi jauh bu. Jauuuhh sekali, dan tidak bisa kembali”

“Oya, jauhnya ke mana, kenapa Suci nggak ikut mama?”

“Suci nggak boleh ikut mama bu. Semua orang melarang Suci ikut mama”

“Kok bisa begitu. Suci kan anaknya mama?”

“Iya bu, Suci anak kesayangan mama, anak bungsu dan perempuan satu-satunya”

Aku ambil tisu, lalu kuhapus air mata di pipi Suci.

Suci semakin erat memelukku seolah tak ingin melepaskan, aku biarkan air matanya membasahi seragamku. Perlahan kubelai kepalanya yang berkerudung putih dan ku tepuk-tepuk pundaknya. Biarlah Suci melepaskan kegundahan dan kerinduan hatinya pada mama tercintanya yang kini pergi jauh entah di mana.

Setelah puas menanggis, dan tangisnya mulai reda Suci perlahan melepas pelukannya sambil berkata sesenggukan.

“Bu Rani, ibu mirip sekali dan seumuran dengan mama Suci”

“Oya, masak sih?”

“Iya, Bu Rani. Ini ada foto mama di HP Suci.  Ibu mau lihat?”

“Iya ya, mirip banget. Seperti bersaudara”

“Dari senyum, gaya difoto, dan model bajupun sama”

“Ya udah, kapanpun Suci kangen mama, boleh kok liat ibu, peluk ibu”

“Iya bu? Alhamdulillah. Makasih ya bu. Bu Rani dan mama juga sama baiknya”

“Alhamdulillah. Kalau boleh ibu tahu mama Suci pergi ke mana?”

Raut wajah Suci kembali sedih, beberapa kali menarik nafas dalam-dalam, sepertinya ada bebas berat yang hendak dia hempaskan. Ada penyesalan di hatiku atas pertanyaanku tadi, yang membuat hati Suci, gadis remaja itu kembali rekah. Senyum yang mulai mekar tadi langsung lenyap tak jadi merekah indah.

Setelah hatinya terkendali bibir mungil itu mulai berucap.

“Dua bulan lalu, mama meninggal karena kecepatan motor. Motor yang aku kendarai masuk lubang dan kami jatuh. Gara-gara aku mama meninggal. Aku yang salah bu.”

Suci kembali sesegukan menahan tangis.

“Jodoh, rizki dan maut. Allah SWT yang menentukan. Semua sudah dalam pengaturan terbaik-Nya. Yuk kita doa kan mama Suci. In syaAllah, mama Suci bahagia di sana. Suci jadi anak yang sholehah ya dan selalu doakan mama”

” Iya, bu. Terima kasih ya bu. Alhamdulillah. Suci sudah lega. Sebenarnya Suci sudah lama ingin sampaikan ini ke Bu Rani. Tapi Suci takut ibu nggak mau”

” Ya udah, nggak apa-apa, anggap ibu sebagai mama Suci ya. Kalau mau ngomongin sesuatu ngomong aja”

“Iya ibuku yang cantik dan baik. Oya boleh minta selfie berdua bu”

“Ayooo. Ibu hobby selfie lho. Jadi ada temen selfie. Ibu jadi punya anak gadis. Anak ibu bujang semua. Alhamdulillah”

Suci kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Akupun kembali melanjutkan mengajar di kelas berikutnya.

Jika hati telah tertawan sepi, ke manakah kan dicari penawarnya?


BIOGRAFI PENULIS

Titin Suarni, Lahir di Kerinci-Jambi. Saat ini menetap di Kota Metro-Lampung. Alumni  SD Negeri No. 78 Pematang Lingkung,  SMP Negeri  Tamiai, SMA Negeri  2 Danau Kerinci.

Menamatkan S1 di Universitas Negeri Padang Tahun 2000, di Fakultas Bahasa, Sastra dan Seni, jurusan SENDRATASIK (Seni Drama, Tari dan Musik) dengan program minor Seni Tari.

Hobi membaca,  deklamasi puisi, menari, dan bermain peran (action) sudah dilakoni sejak sekolah SD hingga kuliah di Perguruan Tinggi. Hobby tersebut terus berlanjut sampai menjadi guru di SMA Negeri 4 Metro dari Tahun 2005 sampai sekarang. Bukan lagi menjadi pelaku yang tampil sebagai penari atau aktor tapi hanya sebagai pelatih dan pembina di bidang seni. Menjadi seorang guru yang memiliki tiga anak laki-laki memiliki kesan tersendiri.

Hobby menulis menjadi aktifitas baru, selama menjalani kebijakan pemerintah yang mengharuskan belajar, bekerja dan ibadah di rumah saja. Beberapa buku antologi sedang proses cetak, in sya allah buku solo segera menyusul naik cetak ke penerbit.

Penulis berdomisili di jalan Cemara no.30 Kelurahan Margorejo Kecematan Metro Selatan Kota Metro Lampung Mencoba aktif di medsos FB, Titin Suarni dengan alamat e-mail titinsuarni@gmail.com atau suarnititin2@gmail.com serta IG. Titinsuarni  dengan no. WA. dan Telegram 0852 6981 0403

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments