Selamat dari Maut, Allah Menjaga Para Pencari Ilmu

Opini

Sabda Rasulallah saw, “Siapa saja yang Allah swt inginkan darinya suatu kebaikan, maka Allah swt akan pahamkan dia dengan Agama.” (Abi ‘Abdillah Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari. Al-Jami’ al-Sahih, Jilid 1, (Kairo: Matba’ah Salafiyah, 1400 H). hal. 42. No. 71.

Hadis diatas menjelaskan bahwa siapa saja yang dapat memahami Agama Islam dengan sempurna, menunjukkan bahwa Allah swt cinta kepadanya. Karena tidak semua orang dimuka bumi ini dapat memahami Agama Islam dengan sempurna, hanya sebagian kecil orang saja yang Allah berikan kemuliaan ini.

Memahami Islam tentu tidak bisa secara instan, perlu belajar Islam dengan berbagai macam cara, salah satu tempat untuk belajar Islam adalah pesantren. Tidak dipungkiri bahwa pesantren mempunyai peran penting dalam menyebarluaskan ajaran Islam, bahkan Pesantren juga punya andil besar dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Jika kita melihat fakta sejarah, maka kita temukan peran Pesantren, Santri beserta kiyainya dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Namun, belajar dipesantren bukanlah semudah yang kita bayangkan. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Jauh dari orang tua, hidup mandiri, mengikuti disiplin yang ketat, bergaul dengan teman baru dari berbagai warna kulit yang berbeda. Maka bersyukurlah bagi teman-teman yang dapat melewati kehidupan pesantren sampai lulus, karena tidak semua orang dapat melewatinya.

Begitu besar perjuangan dan pengorbanan yang kita butuhkan untuk belajar di pesantren. Namun Allah swt membalas semua pengorbanan kita dengan janji-Nya, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Mujadilah/58 : 11, “…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”.

Disini saya ingin berbagi cerita kepada teman-teman yang sedang menuntut ilmu, baik itu menuntut ilmu di pondok pesantren, di universitas, atau tempat lainnya. Sebuah kejadian yang saya kira sangat luar biasa, dengan kejadian tersebut membuat saya semakin yakin dengan janji Allah swt. Yaitu sebuah kecelakaan yang terjadi pada saya, ayah kami Ismail (Almarhum), kakak saya Abdul Mutalib dan M. Zaki.

Waktu itu kami ingin mengantarkan kakak saya M. Zaki ke Ponpes Darussalam Gontor Ponorogo, saya lupa tepatnya tahun berapa. Tradisi di Gontor, jika liburan akhir tahun maka santri pulang bersama-sama dengan teman-teman satu daerah ke daerah mereka masing-masing. Ada yang pulang dengan menggunakan pesawat, bis, maupun kapal laut.

Begitu juga santri dari Propinsi Jambi yang belajar di Gontor pulang bersama-sama ke jambi dengan menggunakan bis dan kembali bersama-sama lagi ke Gontor. Perpulangan santri jambi diberangkatkan dari kota Jambi, sedangkan kami sekeluarga tinggal di Kabupaten Muara Bungo. Jarak antara Muara Bungo dan Kota Jambi sekitar 6 jam ditempuh dengan bis atau 5 jam dengan mobil pribadi.

Pada hari itu ayah saya membeli tiket untuk keberangkatan jam 8 pagi, dan hari itu sangat cerah sekali, kami menggunakan minibus sebesar bis kopaja jika kita di Jakarta. Bis agak terlambat untuk berangkat karena maklum masih menunggu penumpang lain, saya duduk di pinggir kanan kira-kira bangku keempat di belakang sopir.

Ketika perjalanan baru berjarak kira-kira 5 kilometer dari terminal Muara bungo, tepatnya sebelum jembatan Muara Bungo, tejadilah kecelakaan yang saya sendiri tidak sadar bagaimana proses tersebut terjadi karena begitu cepatnya, yang saya ingat, ketika saya sadar, saya sudah berada di bawah curang di dalam mobil yang sudah terbalik dan terdengar suara tangisan, teriakan, dan pecahan kaca dimana-mana. Ketika itu saya melihat kakak M. Zaki keluar dari mobil melalui jendela yang sudah pecah, lalu kakak Abdul Mutalib, lalu saya dan terakhir ayah kami Ismail.

Hal yang sangat luar biasa yaitu ketika saya tahu bahwa kakak saya M.Zaki tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya, sedikitpun. Padahal berita yang saya dengar bis yang kami tumpangi terbalik tiga kali sebelum berhenti di dasar jurang. Sedangkan kakak Abdul Mutalib terbentur giginya dan hanya bengkak kecil, saya sendiri bengkak sedikit di pergelangan tangan. Ayah kami yang sedikit lebih parah yaitu luka di betisnya, karena ketika bangun ada kaki bangku terbuat dari besi yang menghimpit betisnya dan ada orang diatasnya, lalu ditarik sehingga menimbulkan luka beberapa centimeter.

Pada hari itu juga kami melanjutkan perjalanan ke jambi dengan menggunakan bis yang lain, dari PO yang sama. Namun kakak saya Abdul Mutalib tidak ikut serta karena masih trauma dengan kecelakaan yang baru terjadi, sedangkan kami bertiga tetap melanjutkan perjalanan, karena jika tidak sampai tepat waktu ke Jambi, kakak saya M. Zaki akan tertinggal rombongan untuk kembali ke Gontor.

Kejadian yang luar biasa yang kami alami tersebut sampai sekarang tidak bisa saya lupakan, saya selalu bersyukur bahwa Allah telah selamatkan kami dari kecelakaan maut tersebut. Hal yang sekarang dapat saya ungkapkan bahwa kita harus selalu memperbaiki niat ketika hendak melakukan sesuatu, karena jelas bahwa Allah akan memberi ganjaran kepada seseorang sesuai dengan niatnya.

Bagi teman-teman yang sedang belajar di mana saja, baik di Pesantren, Universitas, mari niatkan dalam diri kita untuk selalu menanamkan dalam hati bahwa kita belajar untuk menuntut ilmu bukan yang lain, karena jelas bahwa siapa saja yang bertambah ilmunya, namun tidak membuat dia semakin dekat dengan Allah, maka akan Allah jauhkan dia dari Hidayah-Nya.

Dari Abu Darda’ r.a., ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulallah saw, bersabda, “Siapa saja menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan membuatnya berjalan pada salah satu di antara jalan-jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu. (H.r. Abu Dawud).

Perbaiki Niat Sebelum Beramal, Ketika Beramal, dan Sesudah Beramal.

Mari Beramal Semata-mata Karena Allah.

***

M. Syukri Ismail, S.Th.I, MA

Alumni Gontor Angkatan 2003 dan ISID Angkatan 2007.

Senin, 3 Oktober 2016 M / 2 Muharram 1438 H

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments