Rindu Kebersamaan

Cerpen
Oleh : Titin Suarni

Terdengar suara panggilan azan subuh. Tanda untuk mengawali hari dengan sebuah rutinitas kewajiban penghambaan kepada yang Esa, Sang Pencipta segala sesuatu.

Udara pagi yang sejuk memanjakan paru-paru untuk leluasa dalam menarik dan menghembuskan nafas. Alhamdulillah Allah SWT masih mengkaruniakan udara yang bersih dan segar. Inilah salah satu keuntungan tinggal di daerah yang jauh dari polusi udara. Kota kecil yang masih asri dan hijau.

Indahnya pagi ini menjadi tambahan energi untuk beraktifitas sehari ini dalam mengumpulkan rizki dari yang Maha Kasih. Semburat sinar surya yang mulai mengintip malu-malu dibalik dedaunan. Menambah pagiku ikut bersinar.

Sekitar jam 07.00 WIB, aku sudah siap menghadapi dan menemani mereka, anak-anak harapan bangsa. Untuk memulai mengajak mereka mengeksplorasi ilmu pengetahuan yang harus mereka ketahui.

Dengan diawali doa, lalu literasi keagaamaan dan lanjut apersepsi untuk mengulik sejauh mana pengetahuan yang akan disampaikan. Dengan metode diskusi kelaspun dimulai. Sekitar pukul 09.00 WIB selesai satu sesi, lanjut ke kelas berikutnya. Masih dengan metode, langkah-langkah pembelajaran dan materi yang sama. Pada jenjang yang sama, kelas berbeda.

Siang sekitar jam 12.00 WIB, istirahat untuk melakukan ibadah sholat zuhur. Kembali bersama anak-anak untuk memberikan tauladan yang baik. Semoga pembiasaan baik ini akan menjadikan mereka memilili kepribadian yang baik untuk mereka di masa akan datang.

Sinar matahari mulai condong ke barat saat badan ini mulai terasa letih dan bersiap untuk kembali ke kediaman. Untuk sedikit merebahkan badan yang mulai menjelang mendewasa kalau tak ingin dibilang menua.

Biasanya menjelang senja. Badan sudah bugar kembali. Sudah mandi sore lalu bercengkerama bersama keluarga.

Waktu senja adalah waktu yang sangat berguna untuk kebersamaan dengan keluarga, melakukan sholat magrib dan dilanjut menikmati santap malam. Sambil saling berbagi cerita aktifitas seharian.

Malamnya kami tutup dengan masuk ke peranduan masing-masing. Untuk memberikan hak tubuh ini istirahat. Karena esok hari akan melanjutkan rutinitas aktifitas yang sama.

Tidurlah wahai raga, lelaplah dengan mimpi indah, mimpi yang penuh harapan. Esok pagi bangun dengan semangat tinggi lalu kejarlah mimpi yang semalam.

Mari bermimpi setinggi langit. Setelah itu kita bangun lalu kita kejar mimpi itu dengan izin Allah SWT.

Bukankah keberhasilan itu berawal dari mimpi…?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments