Mengenal Lebih Dekat Penyebar Islam dari Sumatera Barat “Syekh Ahmad Khatib Minangkabau”

Agama Opini

Diringkas dari tulisan Ahmad Fauzi Ilyas Dari Jurnal of Kontemporery Islam and Muslim Societies. Dengan judul lengkap Syeikh Khatib Minangkabau dan polemik tarekat naqsabandiyah di nusantara.

Setidaknya ada dua alasan mengapa penulis perlu menjelaskan dari mana sumber tulisan ini diambil. Pertama, agar lebih jelas duduk masalah ketika mencari sumber. Kedua, agar tulisan ini tidak dianggap plagiasi, berikut adalah biografi ringkas Syekh Ahmad Khatib  Minangkabau.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau merupakan ulama Nusantara yang terkemuka di penghujung abad 19 dan awal abad 20. Peran dan kontribusinya bagi perkembangan keilmuan keislaman tidak dapat diragukan.

Banyak gelar dan amanah yang diemban selama hidupnya. Ia adalah ulama pertama atau Nusantara yang diangkat oleh penguasa Haramain untuk menjabat sebagai Imam dan dan khatib di Masjidil Haram.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau menempuh pendidikan awal informalnya kepada ayahnya sendiri, Syekh Abdul Latif yang merupakan ulama dan Khatib nagari di daerahnya, Bukittinggi. Kepada ayahnya tersebut, Ia mempelajari dasar-dasar agama Islam, seperti membaca Al-quran.

Selain belajar tentang agama Islam, ia juga belajar Inggris dengan masuk ke sekolah Meer Uietgebreid Leger Onderwijs (MULO) yang didirikan Belanda pada saat itu.

Ketika berumur 11 tahun, pada tahun 1287 H / 1870 M, ia bersama dengan ayahnya Pergi Ke Mekah dalam rangka menunaikan ibadah haji.

Namun, setelah menunaikan ibadah haji, ia bersama ayahnya tidak langsung kembali ke tanah air, melainkan menetap di kota suci tersebut selama 5 tahun.

Pada kesempatan ini, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau berkesempatan belajar kepada ulama-ulama besar Mekah, Guru dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau adalah tiga keluarga Syatha’: Syekh Abu Bakar Syatha, Syekh Umar Syatha, Syekh Ustman Syatha, dan Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

Dalam tulisan Ahmad Fauzi Ilyas tersebut, Amirul Ulum menambahkan Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam daftar gurunya.

Dengan jumlah gurunya yang tidak sedikit tersebut, dapat menjelaskan bahwa keilmuannya selain diperoleh dari guru Ia juga belajar secara otodidak. Ke otodidak kan dalam belajar dan membaca disebabkan karena mertuanya adalah seorang ulama sekaligus saudagar yang memiliki toko kitab, sehingga kitab-kitab agama lebih mudah ia dapatkan.

Dari berbagai sumber, mengenai diangkatnya ia sebagai pengajar, imam dan khatib di Masjidil Haram, terdapat dua versi. Pertama, pengangkatannya tersebut atas usulan dari mertuanya. Syekh Saleh Kurdi yang merupakan teman dekat penguasa mekah saat itu, Syarif Aun.

Ini terjadi ketika ada penjamuan makan kerajaan yang dihadiri mertuanya. Ketika pembicaraan terkait mertuanya, penguasa tersebut mengatakan ia diinformasikan bahwa mertuanya menikahkan putrinya dengan seorang Jawi yang tidak menguasai bahasa Arab kecuali Setelah belajar di Mekkah.

Namun, Syekh Saleh Kurdi memberikan jawaban yang singkat dan tepat, dengan menunjukkan alasan diterima ya sebagai menantu karena kesalehan dan ketakwaan Syeikh Ahmad Khatib.Kemudian mertuanya menawarkan menantunya sebagai imam dan khatib di Masjidil Haram.

Kedua, pengangkatannya sebagai imam dan khatib disebabkan karena seni berorasi yang dimilikinya dan koreksian bacaan Imam olehnya pada satu jamaah salat magrib yang diimami oleh Syarif Hesein.

Halaqah ilmiah banyak dikerumuni penuntut ilmu, terutama dari nusantara terletak di bab ziyadah. Kelebihannya dari ulama lainnya terletak pada cara dan metode mengajar yang bertumpu pada pemahaman dan diskusi.

Syekh Ahmad Khatib lebih banyak berdiskusi pada muridnya, sehingga peran Mereka terlihat lebih aktif.

Menurut Syekh Hasan Maksum, pengajaran gurunya tersebut secara zahir adalah seperti kebanyakan ulama yang mengajar, namun ketika dilontarkan kepadanya beberapa pertanyaan akan menunjukkan posisinya sebagai ulama ensiklopedis.

Aktivitas keseharian sebagaimana disebutkan Umar Abdul Jabbar dimulai dengan salat subuh berjamaah di Masjidil Haram yang dilanjutkan dengan pengajaran.

Kemudian kembali ke rumah untuk sarapan pagi. Selanjutnya, kemungkinan tidur dalam waktu yang singkat dan melanjutkan menelaah kitab sampai waktu dzuhur.

Ketika dzuhur, ia pergi salat berjamaah di Masjid dan setelahnya kembali ke rumah guna memberikan dua pelajaran kepada murid-muridnya.

Kemudian makan siang dan beristirahat sejenak sampai salat ashar, ia pergi ke Masjidil Haram guna melaksanakan salat ashar berjamaah. Setelah salat, Yang Membuka pelajaran dan menelaah kitab sampai waktu maghrib, ia kembali ke masjid guna menunaikan salat Maghrib berjamaah.

Setelah memberikan pelajaran sampai waktu salat Isya, Ia shalat berjamaah kembali ke rumah untuk makan malam bersama keluarga. Ia memulai tidur malam juga waktu yang cukup awal sampai sepertiga malam, di mana ia bangun dan menggunakan waktu sampai subuh untuk menulis.

Meski tinggal di Mekkah, ia termasuk di antara ulama Nusantara yang secara terus-menerus mengikuti informasi nusantara secara umum, dan tanah kelahirannya Minangkabau ciri khusus.

Mengenai murid-muridnya, mereka adalah ulama ulama besar yang mempunyai Wibawa dan kedudukan di tengah masyarakat. Sebab, keikhlasan dan kebersamaan guru mereka, Syeikh Ahmad Khathib dalam mendidik dan membimbing.

Terkait banyaknya murid yang belajar kepadanya Snouck Hurgronje menulis tentang sosoknya dengan mengatakan bahwa ia Syekh Ahmad Khatib adalah seorang yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Makkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka, dimana semua orang di Indonesia yang berhaji akan mengunjunginya.

Tidak mengherankan apabila muridnya berasal dari semua daerah yang ada di nusantara, dalam setiap hari terus mengalami penambahan, di antara muridnya adalah berasal dari daerah.

Sumatera Timur yaitu Syekh Muhammad Zain Tasak Batu Bara, Syekh Muhammad Nur ( Mufti kerajaan Langkat), Syekh Muhammad Nur Ismail (Kadhi kerajaan Langkat), Syekh Hasan Maksum ( Mufti kerajaan Deli), Syekh Musthafa Husein ( pendiri pesantren purba baru), dan Syekh Abdul Hamid Mahmud ( pendiri madrasah Ulumil Arabia di Asahan).

Sementara dari Sumatera Barat, Syekh Muhammad Jamil Jambek di Bukittinggi, Syekh Muhammad Tayib di Tanjung Sungayang, Syekh Abdullah Ahmad ( pendiri sekolah Adabiah tahun 1912 M dan majalah Al Munir tahun 1911 M) di Padang, Syekh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang, Syekh Khatib Muhammad Ali, Syekh Sulaiman Rasuli, Syekh Bayang Muhammad Dalil, Syekh Muhammad Jamil Jaho, dan Syekh Tahir Jalaluddin.

Sementara dari daerah Jawa, KH. Hasyim Asy’ari ( pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan ( pendiri Muhammadiyah), KH. Wahab Hasbullah ( salah satu pendiri NU), dan KH. Bisri Syansuri.

Dari daerah Malaysia, Syekh Muhammad Saleh ( Mufti kerajaan Selangor), Syekh Muhammad Zein Simabur, ( Mufti kerajaan perak), dan Syekh Muhammad Muchtar bin Atharid Bogor, termasuk di antara daftar nama-nama muridnya yang berada di Mekkah.

Setelah murid-muridnya kembali dari belajar di Makkah, banyak yang menempati posisi-posisi keagamaan yang tinggi dan strategis terutama daerah ah yang masih terdapat kerajaan Islam, seperti di Sumatera Timur dan Malaysia.

Selain itu, di antara muridnya ada yang dikenal dengan kaum tua dan kau muda, istilah terakhir lebih dikenal di Minangkabau yang cukup mewarnai jalan keagamaan dalam beberapa dekade terakhir.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau memang telah tiada, tetapi semangat dan perjuangan dalam menuntut ilmu dan menyebarkannya harus dijadikan sebagai penyemangat bagi generasi mendatang.

Ia sudah terbukti banyak melahirkan ulama-ulama berkelas yang nanti pada akhirnya menjadi penerus untuk menyebarkan Islam selanjutnya. Tidak bisa dipungkiri ia juga turut memberi warna bagi penyebaran Islam  di nusantara.

Penulis Adalah, Dosen STIE Syari’ah Al-Mujaddid, Pendiri Komunitas Menulis Al-Mujaddid, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

1 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments