Memaknai Kerja Kelompok dan Bagaimana kerja kelompok dilakukan?

Kabar

Kerja kelompok atau kerja tim sudah tidak asing lagi didengar oleh kita, hampir semua kegiatan membutuhkan kerja kelompok, bahkan terkadang menjadi salah satu syarat mendapatkan pekerjaan. Kerja kelompok ini diibaratkan sapu lidi, dengan menyatunya banyak lidi, menjadikan sapu bisa membersihkan halaman dengan cepat, namun jika sendiri, tidak bisa dilakukan dengan cepat, begitulah kerja kelompok.

Dalam kerja kelompok, ada tujuan yang hendak dicapai bersama-sama, biasanya setelah membentuk kelompok, hal yang dilakukan adalah memilih ketua, menentukan tujuan, pembagian kerja, target yang hendak dicapai, batasan waktu bekerja, semuanya dimusyawarahkan, perlu diingat bahwa organisasi, institusi baik pemerintah atau swasta juga termasuk kelompok.

Asas dari pelaksanaan kerja kelompok adalah musyawarah, hal ini sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Q.S. Ali-Imran [3] : 159.

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” Q.S. Al-Syura [42] : 38.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ada beberapa sikap yang harus dilakukan dalam bermusyawarah, Pertama, adalah berlaku lemah-lembut, tidak kasar, dan tidak berhati keras. Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, yang harus dihindari adalah tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala. Kedua, memberi maaf dan membuka lembaran baru. Karena dalam musyawarah pasti akan ada perbedaan pendapat atau kalimat yang menyinggung. Dalam buku M Quraish Shihab, “Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an“, Vol. 2, (Tanggerang: PT. Lentera Hati, 2016), Hal. 312.

Bagaimana kotribusi anggota dalam kerja kelompok?

Banyak kerja kelompok, organisasi, institusi gagal dalam membina persatuan mereka, dan tidak sedikit yang berakhir dengan pembubaran, salah satu faktor yang biasanya terjadi adalah, munculnya rasa suudzon (prasangka) “Aku paling banyak bekerja, dia tidak bekerja” dari dalam diri anggota, sehingga menjadikan hati selalu suudzon dengan anggota lainnya.

Al-Qur’an melarang suudzon, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Q.S. al-Hujuraat [49] : 12.

Karena dalam kerja kelompok, Goal atau tujuan yang hendak diraih seperti air yang tumpah dari gelas yang sudah terisi penuh. Dalam kerja kelompok, setiap anggota biasanya sudah diberikan tugas masing-masing, dan setiap anggota yang bekerja diibaratkan sedang meneteskan air ke dalam gelas kosong, ada yang mengisi satu tetes, karena memang tugasnya memasukkan satu tetes, ada yang dua tetes, sampai gelas terisi penuh, dan tumpah.

Maknanya bahwa, untuk mejaga persatuan kelompok, organisasi, institusi, setiap anggota harus meninggalkan suudzon, karena setiap anggota pasti punya kontribusi dengan tugasnya masing-masing, sampai tujuan yang diinginkan tercapai, sampai air tumpah dari gelas.

Al-Qur’an juga mengajarkan untuk mencapai yang terbaik dari kerja kelompok adalah menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, wa istaghfir lahum, permohonan maghfirah dan ampunan Ilahi. Dan setiap anggota kelompok harus mempunyai tekad bulat untuk melaksanakan hasil musyawarah, lalu diakhiri dengan bertawakkal (berserah diri) kepada Allah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.


Penulis: M. Syukri Ismail – Dosen Institut Agama Islam Yasni Bungo – email: msyukri_ismail@yahoo.com

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments