Mager

Mager

Cerpen
Oleh : Niniek Sutarti
Oleh : Niniek Sutarti

Sudah dua hari aku mager. Mager harfiah. Fisik plus otak. Begitu masuk rumah jebret. Tutup pintu. Ngumpet di kamar surgaku.

Aku ijin suami dan anak2 untuk nyepi seminggu. Aku pilih ke apartemen sahabat yang lagi kosong. Yang ditawarkan untuk kupakai nyepi. Tiga hari terakhir dia akan gabung denganku. Biasa kangen-kangenan.

Tujuan nyepiku sebenarnya mau refresh ideku yang mendadak buntu. Buku misteri kedua lanjutan Jolotundo yang kemarin sudah lewat cetakan keempat.

Para pembaca sudah minta lanjutan nasib Anyes setelah lolos dari ritual tumbal darah.

Sudah sampai bab 6 dari 12 bab yang kurencanakan, ideku mandeg. Berhenti, tak bergerak. Dari sudut tokoh manapun yang ada cuma kejanggalan. Aneh dan tidak realistis. Dan aku tidak suka. Aku benci janggal dan tidak sesuai hidup nyata.

Akhirnya kuputuskan cari situasi baru. Siapa tahu ide mengalir, syukur bila bisa deras. Jumat kemarin aku terbang dari Hang Nadim ke Soehatt. Dari bandara sudah naik MRT.

Aneh kan kenapa harus ke Bekasi. Bukannya di Batam sana banyak tempat tenang. Entah. Mungkin aku butuh nuansa baru. Mungkin juga karena sekalian reuni dengan sahabatku. Selain itu, oleh2 dari Bekasi masih lumayan menarik.

Kunci sudah tinggal ambil di front office. Apartemen ini membentuk busur ke arah danau kecil di tepi hutan buatan pohon tabubaya. Warna-warninya menyedapkan mata. Ruangku di lantai 33. Bisa mendapat bias senja lewat pantulan dari apartemen sisi kiri. Pas dengan seleraku. Sore menjadi tidak panas karena menghadap ke timur.

Ok. Cukup deh malesnya. Laptop, lemon teh tawar segelas besar, cemilan emping mlinjo sudah cukup untuk menikmati sore.

Pengajian Gus Baha menemaniku menulis. Kata demi kata tersusun menjadi alinea. Jemari terus bergerak di atas keyboard. Sesekali pandangan kusapukan ke pemandangan di bawah. Juga ke batas cakrawala.

Tahu2 adzan maghrib sayup terdengar dan angin mulai mendesau. Kukemasi meja dan memindahkan ke nakas di dalam. Semua sudah rapi dan bersih, aku melongokkan kepala melihat seputar balkon. Ketika aku berbalik arah menuju pintu, aku menangkap kibaran kain putih. Seketika aku berhenti. Menoleh ke kiri. Pipiku bedesir. Sesosok perempuan bergamis putih memandangku dari balkon. Tujuh ke kiri lantai 34.

Tatapannya terasa tajam. Aku segera masuk kamar. Mengunci pintu serta menutup kelambu rapat2. Jantungku berdebar kencang. Rasanya otakku buntu kembali.

Kutelpun sahabatku.

“Halo. Salamualaikum.”

“Waalaikumussalam. Mil … Mil … bisa nggak kamu ke sininya malem ini. Please …,” desakku pada Mila.

“Kenapa Ri? Kok suaramu bergetar gitu?” tanya Mila.

“Makanya Mil, kemarilah sekarang. Ntar kuceritain.”

“Ok. Aku diantar dik Tiyok. Mas Har biar ke bandara sendiri malam. Tunggu 30 menit lagi.”

Aku lega. Segera kuambil air wudhu dan menggelar sajadah untuk sholat maghrib. Tidak lupa dzikir dan baca shalawat sambil menunggu Mila.

***

Batam, 20092020

4 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments