Ekosistem Magrove “Jika Hidup di Daerah Anda Jaga Dia”

Wisata

Ekosistem mangrove dapat tumbuh subur di daerah pantai yang berlumpur dengan air yang tenang dan terlindung dari pengaruh ombak yang besar dan keberadaannya tergantung pada keberadaan air tawar dan air laut.  Samingan (1971) menyatakan bahwa sebagian besar mangrove memiliki vegetasi yang relatif seragam, selalu hijau dan berkembang baik di daerah berlumpur yang berada dalam kisaran kejadian pasang surut.

Komposisi mangrove memiliki batas-batas yang khas dan batas-batas tersebut berkaitan dengan atau disebabkan oleh efek selektif dari: (a) tanah, (b) salinitas, (c) jumlah hari atau lama genangan, (d) kedalaman genangan, dan (e  ) intensitas arus pasang surut.

Pertumbuhan vegetasi mangrove dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang sangat kompleks (fisik, kimia, dan biologi), antara lain:

  1. Salinitas

Salinitas air tanah memiliki peran penting sebagai faktor penentu dalam mengatur pertumbuhan dan kelangsungan hidup makhluk hidup.  Salinitas air tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti genangan pasang surut, topografi, curah hujan, masukan air tawar dan sungai, limpasan tanah dan penguapan.

Aksorkoae (1993) menyatakan bahwa salinitas merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan perkembangan hutan mangrove, terutama untuk laju pertumbuhan, daya tahan dan zonasi spesies mangrove.

Toleransi setiap jenis tanaman mangrove terhadap salinitas berbeda-beda.  Ambang batas toleransi untuk mangrove diperkirakan 36 ppm (MacNae 1968).  Adapun Aksornkoae (1993) mencatat bahwa Avicennia spp.  memiliki toleransi yang tinggi terhadap garam dan Bruguiera gymnorhiza ditemukan di daerah dengan salinitas 10-20 ppm.  Di Australia, Avicennia marina dapat tumbuh pada tingkat salinitas maksimum 85 ppm, sedangkan Bruguiera spp.  dapat tumbuh pada salinitas tidak lebih dari 37 ppm (Wells 1982 dalam Aksornkoae 1993).

  1. Tanah

Tanah di hutan mangrove memiliki karakteristik yang selalu basah, mengandung garam, sedikit oksigen, bersifat granular dan kaya akan bahan organik (Soeroyo 1993).  Tanah tempat tumbuhnya mangrove terbentuk dari akumulasi sedimen dari sungai, pantai atau erosi yang dibawa dari dataran tinggi di sepanjang sungai atau kanal (Aksornkoae 1993).  Sebagian tanah berasal dari akumulasi dan sedimentasi bahan koloid dan partikulat.  Sedimen yang menumpuk di kawasan mangrove memiliki kekhususan yang berbeda-beda, tergantung dari sifat dasarnya.

Sedimen dari sungai berupa tanah berlumpur, sedangkan sedimen dari pantai berupa pasir.  Degradasi bahan organik yang terakumulasi dari waktu ke waktu juga merupakan bagian dari tanah mangrove.  Soerianegara (1971) dalam Kusmana (1996) menjelaskan bahwa tanah mangrove pada umumnya kaya akan bahan organik dan memiliki nilai nitrogen yang tinggi.

Menurut Soeroyo (1993), pembentukan tanah mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Faktor fisik yaitu berupa transpor unsur hara oleh arus pasang surut, arus laut, gelombang dan arus sungai;
  • Faktor fisiko-kimia, yaitu berupa penggabungan beberapa partikel melalui aglomerasi dan pengendapan;
  • Faktor biotik, yaitu berupa produksi dan perombakan senyawa organik.
  1. Suhu

Menurut Aksornkoae (1993), suhu merupakan faktor penting dalam proses fisiologis tanaman seperti fotosintesis dan respirasi.  Diperkirakan suhu rata-rata di daerah tropis merupakan habitat terbaik bagi tumbuhan mangrove.

Mikroorganisme memiliki batas suhu tertentu untuk bertahan hidup dalam aktivitas fisiologisnya.  Respon bakteri terhadap suhu yang berbeda, umumnya memiliki kisaran suhu optimum 27-36˚C.  Oleh karena itu, suhu air mempengaruhi dekomposisi daun mangrove dengan asumsi serasah daun mangrove merupakan dasar metabolisme.

Hutchings dan Saenger (1987) menyatakan bahwa Avicennia marina di Australia menghasilkan daun baru pada suhu 18-20˚C, jika suhu lebih tinggi maka laju produksi daun baru akan lebih rendah.  Selain itu, tingkat produksi tertinggi daun Rhizopora spp., Ceriops spp., Exocoecaria spp., dan Lumnitzera spp.  berada pada suhu 26-28˚C.  Tingkat produksi daun tertinggi Bruguiera spp.  adalah 27˚C.

  1. Curah Hujan

Aksornkoae (1993) menyatakan bahwa jumlah, durasi dan distribusi curah hujan merupakan faktor penting yang mengatur perkembangan dan distribusi tanaman.  Selain itu, curah hujan mempengaruhi faktor lingkungan lainnya, seperti suhu udara dan air, kadar garam airpermukaan dan air tanah yang pada gilirannya akan mempengaruhi kelasungan hidup spesies mangrove.

Pada umumnya mangrove tumbuh baik di daerah dengan curah hujan berkisar antara 1.500 – 3.000 mm/tahun.  Namun tanaman mangrove juga dapat ditemukan di daerah dengan curah hujan 4.000 mm/tahun yang tersebar antara 8-10 bulan dalam 1 tahun.  Menurut Noakes (1951), iklim dimana tanaman mangrove dapat tumbuh dengan baik adalah iklim tropis lembab dan panas tanpa adanya pembagian musim tertentu, curah hujan rata-rata bulanan berkisar antara 225-300 mm, dan suhu rata-rata maksimum pada siang hari mencapai 32˚.  C dan suhu rata-rata malam hari mencapai 23˚C.

  1. Kecepatan angin

Angin merupakan faktor yang mempengaruhi ekosistem mangrove melalui aksi gelombang dan arus di wilayah pesisir.  Hal ini mengakibatkan terjadinya erosi pantai dan perubahan sistem ekosistem mangrove.  Angin mempengaruhi tanaman mangrove sebagai agen penyerbukan dan penyebaran benih, dan meningkatkan evapotranspirasi.  Angin kencang memungkinkan untuk menghambat pertumbuhan mangrove dan menyebabkan karakteristik fisiologis yang tidak normal.  Angin juga mempengaruhi jatuhnya serasah mangrove, angin kencang mengakibatkan produksi serasah besar.

  1. Derajat keasaman (pH)

Nilai pH suatu air mencerminkan keseimbangan antara asam dan basa di dalam air.  Nilai pH perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain aktivitas fotosintesis, aktivitas biologis, suhu, kandungan oksigen, serta keberadaan kation dan anion di perairan (Aksornkoae & Wattayakorn 1987 dalam Aksornkoae 1993).  Nilai pH hutan mangrove berkisar antara 8,0 – 9,0 (Welch dalam Winarno 1996).  Nilai pH yang tinggi lebih mendukung organisme pengurai untuk menguraikan bahan organik yang jatuh di kawasan mangrove, sehingga tanah mangrove dengan nilai pH yang tinggi memiliki karbon organik yang relatif sama dengan profil tanahnya (Winarno 1996).

Air laut sebagai media yang memiliki kemampuan sebagai larutan penyangga dapat mencegah perubahan nilai pH yang ekstrim.  Sedikit perubahan nilai pH akan memberikan indikasi terganggunya sistem buffer.

  1. Nutrisi

Aksornkoae (1993) menyatakan bahwa unsur hara merupakan faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mangrove.  Nutrisi dalam ekosistem mangrove dibagi menjadi dua kelompok:

Nutrisi anorganik, yang sangat penting untuk kelangsungan hidup organisme mangrove.  Unsur hara tersebut terdiri dari N, P, K, Mg, Ca, dan Na.  Sumber utama unsur hara anorganik adalah curah hujan, limpasan sungai, sedimen, air laut, dan bahan organik yang terurai di mangrove;

Detritus organik, yaitu bahan organik yang berasal dari bioorganik melalui beberapa tahapan proses mikroba.  Ada dua sumber utama detritus organik, termasuk:

  • Autochtonous, seperti fitoplankton, diatom, bakteri, jamur, alga pada pohon atau akar dan tanaman lain di hutan mangrove;
  • Allochtonous, seperti partikel dari sungai, partikel tanah dari erosi tanah, tumbuhan dan hewan yang mati di daerah pesisir atau laut. “Artikel Sebagian Besar di Kutip dari ghinaghoufrona.blogspoot.com”.
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments