Doktor

Doktor, Guru Besar dan Universitas

Pendidikan
Oleh : Muhammad Awod Faraz Bajri
Oleh : Muhammad Awod Faraz Bajri

Doktor dan Guru besar di perguruan tinggi semakin banyak. Semakin banyak Doktor dan Guru Besar konon semakin akan meningkatkan kepercayaan diri masing- masing universitas untuk bersaing menggaet peminat supaya bisa masuk ke salah satu universitasnya terutama untuk kepentingan menaikan nilai akreditasi.

Tidak sedikt yang mengejar gelar doktor dan guru besar untuk bisa menduduki jabatan struktural.

Apakah salah mengejar jabatan struktural? Tidak salah selama tujuannya untuk memberikan kebermanfaatan dan mencerdaskan kualitas sumber dsya manusia, tetapi ketika tujuannya hanya untuk mendapatkan Proyek, maka akan kehilangan esensi dalam perguruan tinggi

Saya teringat sahabat yang produktif menulis bahwa tidak sedikit kalangan intelektual yang terseret ke arah pragmatisme dan berada di menara Gading, bahkan merasa hebat ketika sebuah tulisannya terindeks scopus dan lupa akan hakikat ilmu.

Apa jadinya tulisan terindeks tapi tidak memberikan manfaat buat bangsa, negara serta masyarakat. Syukur-Syukur memberikan kontribusi positif.

Anggap saja Kenaikan jabatan atau terindeks sebagai sebuah bonus, tetapi tidak menghilangkan esensi dalam menjalankan tridarma Perguruan Tinggi.

Semakin disibukkan dengan prosedur adminstrasi yang rumit, akan semakin sulit berkembang pendidikan di Indonesia.

Semakin tinggi ilmu harusnya semakin mendekatkan diri ke realitas tertinggi dan semakin rendah hati bukan semakin menyombongkan diri.

Semakin tinggi ilmu harusnya semakin menggelorakan kebaikan di ruang publik bukan justru berebut posisi dengan menghalalkan segala cara.

Ali syariati salah seorang pemikir dari Iran pernah mengungkapkan bahwa yang disebut kelompok intelektual adalah orang yang selalu hadir dalam nadi-nadi masyarakat serta terlibat dalam menyelesaikan problematika yang terjadi dalam masyarakat.

Hakikatnya Masyarakat tidak pernah akan melihat setinggi mana titel akademik seseorang melainkan sejauh mana memberikan kontribusi positif akan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Begitu banyak orang sukses memberikan kontribusi positif kepada masyarakat tidak memiliki titel akademik yang tinggi.

Tidak sedikit yang memiliki titel akademik terjerat kepada persoalaan Hukum, bahkan  ada yang mencaci maki serta mendegarasi moralitas seseorang.

Seorang Doktor dan Guru Besar harus mampu menjaga integritas, kredibilitasnya di ruang Publik supaya perguruan tinggi tempatnya bernaung bisa terjaga dengan baik di hadapan Publik.

Menjaga Moralitas Keilmuaan jauh lebih penting ketimbang hanya mengejar jabatan struktural semata.

Bukankah Jabatan hanya sementara? sedangkan Ilmu akan terus berkembang hingga akhir dari peradaban.Peradaban dibangun dengan ilmu pengetahuan, sains dan Teknologi serta moralitas yang baik. Teruslah kobarkan budaya literasi untuk peradaban yang lebih baik.

 

Muhammad Awod Faraz Bajri ( Purwakarta, 1 September 2020)

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nasaruddin Ishak
3 months ago

Tulisannya mantul semua. I like and subscribe