Dinasti Abbasiyah 750-1258 M dan Kondisi Umat Islam Kita Saat Ini

Sejarah
Oleh: Wandi

Dalam sebuah perjalan sejarah, tidak ada sebuah kekuasaan yang abadi tumbuh dan berkembang selamnya.  Kekuasaan itu terus berdialektika seperti teori Ibnu Khaldun 1332-1406 M pemikir Islam abad pertengahan dengan pencetus teori siklus. Dalam teorinya tersebut Ibnu Khaldun bercerita bahwa dalam sebuah kekuasaan ibarat sebuah siklus, kekuasaan itu tumbuh, berkembang, dan kemudian hancur, serta muncul kekuasaan yang baru lagi. Begitu juga dengan Dinasty Abbasiyah yang akan di bahas pada tulisan ini.          

Daulaah Abbasiyah berdiri selama lima abad, dimulai dari tahun 750-1258 M, dengan periode selama itu sangatlah cukup bagi dinasty Abbasiyah untuk membangun kekuatan besar dan menjelma menjadi penguasa Islam yang disegani. Kebesaran dan keagungan dinasty Abbasiyah digambarkan sebagai salah satu daulah besar yang berjasa memimpin dunia dengan corak politik yang berwarnakan keagamaan dan kekuasaan.

Semua orang-orang pilihan dan orang-orang terbaik tunduk dibawah naungannya berdasarkan semangat keagamaan, sementara rakyatpun patuh dengan senang hati atau karena takut. Selain itu dari segi peradaban dinasty Abbasiyah adalah Negara yang sarat akan kebaikan, pusat pengetahuan, sentral kekuasaan, menara keagamaan, negeri bertabur kemajuan, keamanan terpelihara, serta tapal batas yang terjaga (Hasan Ibrahim Hasan, 2013).

Didalam pembahasan dan penutup nanti, selain mengkaji secara lugas mengenai kegemilangan Islam masa dinasty Abbasiyah, penulis juga menceritakan apa saja perkembangan ilmu pengetahuan masa dinasty Abbasiyah, menceritakan seikit faktor penyebab kemundurannya, setelah menceritakan proses kemundurannya tentu penulis memberikan beberapa solusi-solusi untuk menyikapi kemunduruan peradaban Islam masa kini. 

Awal Berdirinya Bani Abbasiyah

Dinasty Abbasiyah adalah dinasty yang melanjutkan kekuasaan Bani Umayyah, dinamakan dinasty Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasty ini adalah keturunan Abbas, paman nabi Muhamad SAW. Dinasty Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas. Ia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H, ia dilantik menjadi Khalifahh pada tanggal 3 Rabiul Awwal 132 H. 

Pada abad ketujuh terjadi pemberontokan diseluruh negeri, pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbas melawan pasukan Marwan bin Muhammad (Dinasty Bani Umayyah), yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abdul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat dinasty Umayyah dan bersamaan dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah (Ahmad Syalabi, 1983).

Masa Keemasan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah

Peradaban dan kemajuan Islam pada masa dinasty Abbasiyah tumbuh dan berkembang dengan pesatnya. Hal ini disebabkan karena dinasty Abbasiyah lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.

Pusat dari peradaban dan kemajuan budaya Islam pada saat itu berada di bagdad (Ibukota Pemerintahan), sebagai pusat intlektual terdapat beberapa pusat untuk  aktivitas pengembangan ilmu, antara lain Baitul Hikmah, yaitu lembaga ilmu pengetahuan sebagai pusat penerjemah buku-buku dari berbagai cabang ilmu, buku-buku tersebut berasal dari budaya bangsa Persia, tentu pada perkembangannya pemikiran-pemikiran budaya asing diatas nantinya sangat berpengaruh terhadap keilmuan kalangan muslim Abbasiyah (Philip K Hitti,1970).

Buku tersebut berasal dari budaya bangsa Persia, Yunani, dan lain-lain yang kemudian diterjemahkan ke dalama bahasa Arab, tentu pada perkembangannya pemikiran-pemikiran budaya-budaya asing berpengaruh terhadap kalangan muslim dinasty Abbasiyah.

Dari catatan sejarah dituliskan bahwa dinasty Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu Al-Makmum, pada masanya berkembang ilmu pengetahuan agama, seperti ilmu Al-Qur’an, qira’at, fiqih, ilmu kalam, bahasa dan sastra. Berikut penjelasannya mengenai kemajuan dibidang agama masa dinasty Abbasiyah:

  1. Fiqih
    Tumbuh dan berkembangnya empat mazhab dalam Islam diantaranya Mazhab Hanafi yang didirikan oleh Imam Abu Hanifah, Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, kemudian Mazhab Syafi’I didirikan oleh Muhammad bin Idris Ash-Syafi’i, dan terakhir Mazhab Hanbali didirikan oleh Ahmad bin Hanbal.
  2. Ilmu Tafsir
    Tokoh-tokoh yang terkenal dalam ilmu tafsir adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu Athiyah Al-Andusi, dan Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahani.
  3. Ilmu Hadits
    Para ahli hadits yang terkenal pada masa ini adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Imam Nasa’I dan Imam Baihaqi.
  4. Ilmu Kalam
    Kajian para ahli Ilmu Kalam (teologi) adalah mengenai dosa, pahala, surga dan neraka, serta perdebatan atau tauhid. Diantara tokoh-tokohnya yang terkenal adalah Imam Abul Hasan Al-Asya’ri dan Iman Abu Mansur Maturidi tokoh Asy’ariayah. Kemudian Washil bin Atha, Abul Huzail, Al-Allaf tokoh Mu’tazilah, dan Al-Juba’i.

Disamping perkembangan dalam ilmu keagamaan, kemajuan peradaban yang dialami oleh dinasty Abbasiyah juga mencakup kedalam ilmu-ilmu umum seperti ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geografi, sejarah, aritmatika, astronomi, musik, kedokteran dan kimia.

Ilmu-ilmu umum ini masuk melalui terjemahan buku karangan Yunani, Persia, dll. Kedalam bahasa Arab oleh para penerjemah ahli, toko penerjemah yang terkenal pada saat itu adalah Hunein Ibnu Ishak (Didin Saefuddin Buchori, 1970). Sehingga tidak dapat dipungkiri pemikiran budaya asing sangat mempengaruhi pemikiran para ahli dinasti Abbasiyah pada saat itu.

  1. Ilmu Filsafat
    Kajian Filsafat dikalangan umat Islam mencapai puncaknya setelah adanya gerakan penerjemah filsafat dari berbagai budaya seperti Yunani, Persia kedalam bahasa Arab, adapun para filsuf Islam pada saat itu antara lain Abu Ishaq Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.
  2. Ilmu Kedokteran
    Perkembangan kedokteran sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Persia, Yunani, dan India. Diantara para ahli kedokteran ternama pada saat itu adalah Abu Zakari Yahya bin Musewaih, seorang ahli farmasi di rumah sakit Jundhisapur Iran, perlu diketahui bahwa Jundisapur Iran merupakan akademi terkenal di Persia, materi yang diajarkan diakademi ini merupakan pengembangan keilmuan Yunani (Didin Saefuddin Buchori, 2008). Tokoh lainnya adalah Abu Bakar ar-Razi yang dikenal sebagai Galien Arab, dan Ibnu Sina.
  3. Matematika
    Dalam ilmu matematika para ahli dinasty Abbasiyah menganggap bahwa Pythagoras sebagai guru bangsa Arab, diantara ahli matematika Islam yang terkenal adalah al-Khawarizmi yang mengarang kitab al-Jabar wa Muqabalah (ilmu hitung) dan penemu angka nol, tokoh lainnya adalah Abu Al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Al-Abbas.
  4. Geografi
    Salah satu ahli geografi Islam pada masa dinasty Abbasiyah adalah Ibnu Khardazabah yang berasal dari Persia, pemikiran goegrafi Ibnu Khardazabah dituangkan kedalam karangan sebagai buku geografis paling tua yang ditulis dalam bahasa Arab dan merupakan pedoman bagi para penjelajah untuk menemukan jalan laut yang bermula dari muara sungai Tigris menuju ke India dan China (Hasan Ibrahim Hasan, 2013).
  5. Ilmu Astronomi
    Kaum muslimin mengkaji dan mengalisis berbagai aliran ilmu astronomi dari berbagai bangsa seperti Yunani, India, dan Persia. Adapun ahli astronomi muslim yang terkenal pada saat itu adalah Abu Mansur Al-Falaki, Jabir Al-Batani sebagai pencipta teropong bintang pertama dan Raihan Al-Biruni (Samsul Munir Amin, 2014).
  6. Sejarah
    Pada masa dinasty Abbasiyah banyak muncul tokoh-tokoh sejarah yang terkenal diantaranya Ahmad bin Al-Ya’kubi, Ibnu Ishaq, Abdullah bin Muslim Al-Qurtubah, Ibnu Hisyam, Ath-Thabari, Al-Maqrizi, Ibnu Muqaffa dan Al-Baladzuri. Salah satu pengaruh budaya asing dalam ilmu sejarah adalah terjemahan kitab Khuday Nameh atau Kitab Al-Muluk dari bahasa Pahlevi (Persia) kedalam bahasa Arab dan dinamai dengan Siyar Muluk al Ajm oleh Ibnu Muqaffah.
  7. Bahasa dan Sastra
    Perkembangan ilmu bahasa pada masa dinasty Abbasiyah adalah ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badi’, dan arudh. Untuk bahasa Arab sendiri disajikan sebagai bahasa Ilmu pengetahuan disamping sebagai alat komunikasi atau bahasa persatuan antarbangsa dibawah kekuasaan dinasty Abbasiyah, diantara para ahli Ilmu bahasa adalah Imam Sibawaih, Al-Kiasi, dan Abu Zakaria Al-Farra.

Meskipun secara garis besar menurut Ibnu Khaldun dalam teori siklusnya bahwa setiap peradaban ada masanya akan hilang dan tumbuh peradaban baru, setidaknya faktor kemunduran dinasty Abbasiyah terbagi menjadi dua faktor yaitu, faktor internal dan eksternal.

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam dinasti Abbasiyah seperti faktor politik dan ekonomi, kemudian faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diantaran serangan dari bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M yang menghancurkan bangdad sebagai pusat Ilmu pengetahuan pada zaman keemasan/kejayaan Islam, tentu apa yang terjadi pada saat itu, sedikit banyak berpengaruh pada peradaban Islam selanjutnya.

Faktor Kemunduran Umat Islam Saat Ini

Dari pembahasan diatas sengaja penulis ambil dan kutip sedikit banyak tentang kebangkinan Ilmu Pengetahuan dalam Islam pada masa dinasty Abbasiyah 750-1258 M, dimana dinasty ini adalah bukti puncak kejayaan Islam masa lalu. Permasalahannya adalah setelah beberapa abad kemudian seakan-akan umat Islam itu sendiri kehilangan kekuatannya, semua perkembangan ilmu pengetahuan, seperti Filsafat, Kedokteran, Matematika, Geografi, Sejarah, Bahasa dan Sastra sekarang diadopsi oleh Peradaban barat.

Umat Islam seakan-akan kehilangan arah, padahal jika melihat dari kaca mata sejarah semua rumpun ilmu diatas pernah berkembang dan jaya pada masa dinasty Abbasiyah. Sekarang pertanyaan adalah kenapa umat Islam terbelakang atau mundur dibanding umat-umat lain, bahkan seakan-seakan peradaban itu sudah diambil alih oleh Peradaban lain khususnya Barat.

Bahkan saat ini kita harus meniru dan mengadaptasi perabadan-peradaban yang dulunya milik umat Islam. Di bawah ini setidaknya paling sedikit ada empat akar masalah penyebab kemunduran umat Islam saat ini.

  1. Ilmu
    Banyak diantara kita masih memperdebatkan hal-hal sepele misalnya tentang pertentangan qunut antara ormas A dan B, yang sebenarnya semua berhak menjalankan ajarannya karena ada dalil yang mereka pegang masing-masing. Lain halnya ditahun politik seperti yang kita rasakan pemilu umum April 2019 lalu, saling serang antara kubu A dan B sering kali mengilangkan fikiran jernih serta mudahnya menyebar hoax dan fitnah demi kepentingan politik tertentu. Sementara umat lain, Negara lain, sudah memikirkan dan menformulasikan bagaimana menciptakan teknologi canggih, berlomba-lomba dalam inovasi smartphone terbaru ada juga bahkan umat lain sudah sampai ke bulan.
  2. Kesatuan Visi dan Misi
    Saat ini  kita juga tidak mempunyai visi misi yang jelas, kita banyak dalam jumlah penduduk khususnya di Indonesia. Tetapi disatu sisi dari jumlah yang banyak itu kita mudah diprovokasi, terkhusus dalam kasus tahun politik seperti tahun-tahun lalu. Umat Islam sangat mudah digiring opininya kearah politik praktis dalam balutan agama, untuk kepentingan segilintir golongan di negeri ini.
  3. Etos Kerja
    Jika dahulu nabi Muhammad SAW dan para sahabat bersusah payah membangun pondasi dasar umat Islam, melalui tak-tik bahkan sampai berperang dengan kaum musyrik, pada zaman khulafaurrasyidin dan dinasty Umayyah bahkan pada saat itu umat terus melakukan ekspansi sampai ke Spanyol. Sangat kontras dengan umat Islam yang ada pada saat ini, kita seakan-akan malas dan acuh tak acuh dengan perkembangan yang ada. Kita kehilangan semangat kerja, kehilangan arah dan tujuan yang jelas, serta kemana arah dan tujuan Islam dimasa mendatang.
  4. Organisasi
    Kita sudah berjamaah, sholat, haji, zakat, puasa tetapi kita belum jadi satu organisasi besar bernama umat Islam, saat ini kita dalam wadah besar bernama Islam tetapi langkah, tujuan bahkan visi dan misi kita terperangkap pada ideologi, sekte, aliran, mazhab bahkan ormas Islam. Dari berbagai macam aliran-aliran tadi, umat Islam seakan terkotak-kotak akibatnya umat Islam sibuk mengurusi hal-hal sepele tadi.

Akhirnya dari berbagai macam persoalan yang dikemukan tadi dari zaman perkembangan ilmu pengetahuan periode dinasty Abbasiyah kaitannya dengan kemunduran umat Islam saat ini ada baiknya kita kembali merefleksikan sejarah keemasan Islam masa lampau agar menjadi pelajaran berharga untuk masa mendatang. Selain itu empat point diatas, ilmu, kesatuan visi misi, etos kerja dan organisasi harus segera dijalankan mulai dari kehidupan sehari-hari. Jika tidak mustahil rasanya umat Islam bisa merebut kembali masa kejayaannya seperti periode zaman keemasan dinasty Abbasiyah pada masa lalu. 

Penulis Adalah Pendiri Komunitas Menulis Al-Mujaddid

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
1 year ago

Sip👍

Heri. N
1 year ago

😀😁💪🖒🖒🖒

hariani wulandari
1 year ago

Bagus materi dan analisisnya. Jazakallah khoir