Cermin Warisan

Cerpen
Oleh : Niniek Sutarti
Oleh : Niniek Sutarti

Aku paling senang dengan perabotan kayu. Makin antik makin keren.

Siang ini aku dapat kiriman dari keluarga buyut Kati.

Kemarin ada yang sms yang berbunyi:

“mBak Sari, saya Dewo. Mbah Kakung saya sepupu mbah Putrinya mbak. Ada pesan dari buyut Kati untuk mengirim cermin ke mbak sebagai pewaris.”

Setelah kubuka pembungkusnya yang rapi dan aman itu, kudapati sebuah cermin oval yang cantik. Cermin dinding. Dengan pigura kayu jati ukiran daun dan bunga. Tepat di bagian tengah atas ada bulatan. Setelah kuamati lebih seksama tampak di tengah bulat kayu itu menyembul lingkaran batuan hitam yg mengkilat.

Setelah terpasang di dinding kamarku, aku merasa gembira dan kagum. Cerminnya tampak bersih dan mengkilat. Seakan di dalam cermin itu ada telaga. Pantulannya sangat jernih.

Aku jadi ingin berlama-lama bercermin.

Wajahku tampak halus mulus. Rambutku hitam panjang mengkilat. Satu dua garis keperakan menghiasi menambah indah gerai rambutku.

Aku tersenyum sepasang lesung pipit membuat pipiku menggemaskan.

Sflaashhh … seberkas cahaya jatuh du batu hitam. Mendadak pantulan dalam cermin seakan bergolak. Senyumku terus mengembang. Rambutku meriap megar. Aku terpanah memandang pantulan wajahku sendiri. Tanpa sadar kedua tanganku menutup mulutku.

Tapi wajah di cermin itu terus tersenyum lebar. Tampak sepasang taring runcing di rahang atas dan bawah. Semakin lebar senyuman membentuk seringai aneh. Matanya membara merah. Tangannya perlahan menyentuh tepian pigura. Wajahnya yang menyeringai semakin mendekat. Lalu mendorong dengan pasti permukaan kaca. Mirip relief candi.

Pyaaarrr … cermin meledak. Wajah itu melayang. Aku menjerit sekuat tenaga. Lantas gelap.

***

Batam, 03102020

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments